Penyihir Yang Curang

December 19, 2010

Nama  : Dwi Wahyuni

NPM  : 09144600085

Kelas  : B’09

Prody : PGSD

 

 

 

Penyihir Yang Curang

 

Saat itu para peri cantik sedang terbang disekitar taman bunga dan perkebunan buah, mereka bermaksud menikmati udara pagi, mereka adalah peri Mawar, Peri Melati dan Peri, Kamboja. Mereka terlihat sangat menikmati suasana pagi dan indahnya pemandangan saat itu. Peri cantik mencium setiap bunga yang mekar, wajah mereka berseri-seri melihat warna-warni buah yang sudah masak. Ditengah-tengah asyiknya mereka menikmati pagi ini tiba-tiba Peri Mawar berjalan seorang diri menuju pohon besar. Peri  Kamboja dan Peri Melati dengan rasa penasarannya pun mengikuti arah Peri Mawar. “Ada apa Mawar mengapa kamu tiba-tiba menuju pohon ini?”, Tanya si Peri Melati. “Lihat…..! lihatlah semak-semak di bawah Pohon Belimbing itu teman-temanku!, sepertinya ada sebuah botol berisi kertas di dalamnya”, Jawab si Peri Mawar. Peri Mawar bergegas mengambilnya dan memerlihatkan kepada kedua temannya. Dengan penuh teka-teki mereka bersama-sama membuka isi botol tersebut dan segera membuka isi kertasnya. “Sepertinya ini adalah sebuah peta harta karun teman-teman”, ujar si Peri Kamboja. Ada beberapa gambar Pohon Jeruk, Pohon Mangga, sebuh gubuk yang biasa digunakan oleh para petani buah untuk menunggui perkebunanya dan sungai kecil.

“Teman-teman sebaiknya kita bawa pulang ke Istana dan kita tunjukan kepada bunda peri saja”, Usul si Peri Melati kepada teman-temannya. “Ya aku setuju dengan mu Melati siapa tahu bunda bisa memecahkan teka-teki ini”, Jawab si Peri Kamboja. Ahirnya mereka terbang menuju Istana Peri, tempat para peri tinggal bersama-sama. Ditengah-tengah perjalanan meraka menuju istana tiba-tiba para peri itu dihadang oleh penyihir dari negeri sihir yang sedang terbang dengan tongkat terbangnya. Dengan tatapannya  yang tajam dan wajah seramnya penyihir bertanya kepada ketiga peri cantik itu, “hey…..kalian!, apa yang kalian bawa itu? Cepat tunjukan kepadaku….!” , perintah penyihir itu dengan muka garangnya. Ketiga peri itu sangat ketakutan dan kebingungan harus bagaemana menghadapi si penyihir karena mereka tahu penyihir itu pasti bermaksud akan meminta botol ini jika tahu bahwa isinya adalah peta harta karun. “Yang kami bawa ini hanyalah botol mainan yang kami ambil dari kebun buah penyihir”, Jawab si Peri Mawar dengan tergese-gesa dan wajah ketakutannya. Tanpa berpikir panjang lagi para peri itu bergegas terbang dengan cepat meninggalkan si penyihir.        “hey…………kalian sebenarnya apa yang kalian sembunyikan itu mengapa kalian tergesa-gesa pergi meninggalkan aku?”, Tanya si penyihir dengan agak marah! Jawaban dari peri tadi membuat penyihir semakin penasaran saja.

hingga akhirnya penyihir diam-diam mengikuti para peri itu dari belakang. Setibanya di Istana para peri tadi langsung menemui Bunda peri (pemimpin Istana Peri) dan tanpa mereka sadari penyihir tadi masih mengikuti mereka dan diam-diam bersembunyi di balik pepohonan dan semak taman istana untuk mengintip pembicaraan para peri tadi. Ketiga peri tadi segera menemui bunda dan menunjukan petanya, bunda mulai membuka isi petanya “sepertinya aku mengenali daerah yang ditunjukan dalam peta ini, Peta ini menunjukan sebelah selatan perkebunan buah, perhatikan saja peta ini menunjukan pertama berjalan dari sungai kecil menuju gubuk kemudian dari gubuk kita ke utara kira-kira 20 langkah menuju pohon mangga yang disebelahnya terdapat pohon jeruk dan sesuatu yang disembunyikan itu berada di antara kedua pohon ini”, Bunda mencoba memahami isi peta itu. “Peta ini memang kami temukan di perkebunan buah bun”, sahut pera peri itu!. “Apakah peta itu peta harta karun bunda?” Tanya si Peri Kamboja. kita juga tidak akan tahu peta apakah ini kalau kita tidak mencari tahunya secara langsung. “Kalau begitu  tunggu apalagi ayo kita segera datang kelokasi yang ditunjukan peta ini bunda, kita cari tahu benda apa yang disembunyikan oleh peta itu”, sahut Peri Melati dengan semangatnya. “Baiklah mari kita kesana agar rasa penasaran kalian segara terjawab”, jawab Bunda dengan suara lirih dan lembutnya.

Penyihir yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan para peri mulai terbesit pemikiran jahatnya. Ih..ih…ih…akan aku ambil harta karu itu sebelum kalian sampae disana. Penyihir bergegas terbang mendahului para peri dengan tongkat terbangnya yang memeng terkenal dapat terbang dengan sangat cepat. Setelah hanya beberapa menit saja ia terbang sampaelah ia di lokasi peta itu berada. Ih….ih….ih…sampae juga aku disini sebelum mereka tiba! tanpa membuang-buang waktu penyihir segara mencari petunjuk-petunjuk lokasi yang di katakana oleh bunda tadi. “Dimana sungai kecilnya!, itu dia sungainya ha….ha….ha….harta karun itu akan menjadi miliku”, ocehan si penyir tadi sambil mencari harta karunya.

Segera para peri tadi sampai di tempat yang sama menyusul penyihir tadi. “Stop….stop….lihat itu!”, tiba-tiba Peri Melati menghentikan perjalanan  bunda dan kedua peri lainnya. “Ada apa Melati?”, Tanya bunda. Itu bunda sepertinya itu penyihir yang menghalangi perjalanan pulang kami tadi bunda!, kenapa dia ada disini?. “Sepertinya penyihir tua itu mengikuti dan mendengarkan pembicaraan kita di istana tadi bun”, sahut peri kamboja. “Kalau begitu kita  sembunyi disini saja!”, usul peri Mawar. “Tidak aku tidak setuju, lebih baik kita tangkap saja penyihir itu sebelum ia mengambil harta karun itu!”, Peri Kamboja ikut angkat bicara dengan wajah jengkelnya kepada penyihir itu. “Sssssst……jangan berisik sabar! Kita biarkan saja dia mencari harta itu sampae ketemu nanti kalau sudah ketemu baru kita tangkap dan kita rebut harta karun itu sehingga kita tidak perlu capek-capek mencari dan menggali harta itu”, bunda mencoba menenangkan dan menasehati para peri tadi. Akhirnya dengan sabar peri-peri tadi mengintip penyihir yang sedang sibuk mencari harta karun itu.

Penyihir itu terlihat sedang berjalan dari sungai kecil menuju gubuk dengan wajah tamaknya sambil tertawa seakan tidak sabar ingin segara menemukan harta itu. Satu, dua, tiga, empat terdengar penyihir tadi sedang menghitung langkahnya sampae dua puluh langkah persis seperti apa yang dibicarakan para peri tadi. “Ih….ih….ih…ini dia pohon mangga dan pohon jeruknya harta karun sudah di depan mata!….” penyihir itu bicara seorang diri. Dengan tidak sabar lagi penyihir segera menuju titik tengah antara pohon mangga dan jeruk tadi.

Bbbrrrruk……tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti ada sesuatu yang terperosok. Para peri tadi mencoba mengamati dengan sangat serius apa yang sebenarnya terjadi mengapa terdengar suara itu. Aduh….tolong…..tolong….tolong….terdengar suara penyihir tadi teriak minta tolong seakan kesakitan. Bergegas para peri tadi keluar dari persembunyianya dan segera menghampiri penyihir tadi. Ha….ha….ha…..para peri tadi tertawa terbahak-bahak menyaksikan penyihir tadi berlumur dengan getah karet dan tubuhnya terbungkus penuh dengan dedaunan kering. “Aduh….tolong…kakiku terjepit”, rintihan si penyihir itu untuk minta tolong kepada para peri. Ha….ha….Rasakan kesrakahanmu dan kecuranganmu itu penyihir tua….ambil itu harta karun!.

“Sepertinya itu peta jebakan landak yang sengaja dibuat para petani buah agar tanaman mereka tidak dirusak para landak liar”, sahut bunda sambil tertawa.

One Response to “Penyihir Yang Curang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: